Sentuhan itu tak ada lagi
Memang…
Masih membekas
Meski tak berbekas
Meski pula jejaknya kekenyangan
Yang terguyur berulang – ulang
Tapi tetap membekas
Walau tiada bekas
Karena sisakan getar – getar tajam
Pada bibirku yang tetap terdiam
Dengan lumatan menghujam
Meski silam
Yang pertama
Yang terindah…
By: dadarguling95@yahoo.com. Mansy. Siroj Priamitra
Jum’at, 1 Agustus 2008, 01.07 am
Derap langkah manusia menjadi memori yang tertulis dalam buku harian Tuhan, tanpa kita sadari segala sesuatu yang terjadi. Tapi ingatlah, Tuhan tidak pernah tidur
WELLCOME TO MY BLOG
di sini lo semua bakal dapat, liat, baca, dan sekaligus menilai coretan tangan dari seorang pendosa mengaku sebagai anak adam yang mungkin buat lo nantinya ya...., sekedar biasa (cuman buat ngisi kekosongan trus iseng nyoret-nyoret ga' penting), lumayan, bagus, jelek, atau jelek banget, ha ha ha... (garing + tengsin). tapi, apalah itu terserah apa yang ada di mind lo semua yang jelas gw secara sadar dan tanpa rasa terpaksa menulis isi di blog ini... SILAHKAN LO BACA APA YANG ADA DI SINI.
tanky bertubi-tubi
tanky bertubi-tubi
Kamis, 28 Oktober 2010
CINTA MUTUALISME
Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan
Dengan mencoba bertahan dalam situasi yang mengekang
Jangan usik guncangan yang ada dengan menawarkan sebuah permainan
Bila kau tak inginkan sebuah kecurangan
Mainkan dawai yang sempat kita ciptakan
Lalu rangkai kembali lirik yang pernah kita lupakan
Kemudian selaraskan
Dengan itu jiwaku akan sedikit lebih tenang
Menatap gerakmu tanpa kecurigaan
Yakinkan aku tentang kau adalah pilihan
Kesalahan lalu takkan lagi terulang
Berharap kita bisa sejalan beriringan
Menepis cemburu yang mendalam
Kita tatap esok dengan senyuman
Malam ini gundah akan hilang bersama dengan berlalunya malam
Esok malam pasti akan datang
Yang ku tau tanpa gundah yang sengaja tertinggal
Jangan biarkan sedetik waktu terbuang
Kita lewati tanpa ada yang tertinggal
Tapi, itu bila kau yakinkan aku untuk memilihmu
Kulepas semua khawatirku
Dan buang segala cemburumu
Jalinan ini hanya milik kita
Milik perasaan kita yang mencinta
Lalu biarkan mereka memuji atau mencemooh
Terserah mereka menganggap kita seperti orang bodoh
Yang pasti, harapan di hati hanya berjodoh
Kubisikkan harapan lewat alunan sendu
Semoga kau dengar dan tertanam jauh di lubuk kalbu
Hingga tak ada curiga yang tersisa
Semua berganti dengan setia dan percaya
Aku bukan menuntut
Hanya meyakinkanmu agar kau tak selalu kalut
Kini, hanya ada setiaku dan percayamu
Itu janji, bukan sumpah semu
Semua agar kau yakin akan cinta yang bahagia
Cinta yang tak melupakan pasangannya
Yang selalu memandang tanpa syarat dan apa adanya
Sadarlah, bahwa cinta itu memberi dan menerima
By: dadarguling95@yahoo.com. Mansy. siroj Priamitra
Rabu, 20 okt 2010. 08.02pm. kamis, 21 okt 2010. 07.55am, 10.41am
Dengan mencoba bertahan dalam situasi yang mengekang
Jangan usik guncangan yang ada dengan menawarkan sebuah permainan
Bila kau tak inginkan sebuah kecurangan
Mainkan dawai yang sempat kita ciptakan
Lalu rangkai kembali lirik yang pernah kita lupakan
Kemudian selaraskan
Dengan itu jiwaku akan sedikit lebih tenang
Menatap gerakmu tanpa kecurigaan
Yakinkan aku tentang kau adalah pilihan
Kesalahan lalu takkan lagi terulang
Berharap kita bisa sejalan beriringan
Menepis cemburu yang mendalam
Kita tatap esok dengan senyuman
Malam ini gundah akan hilang bersama dengan berlalunya malam
Esok malam pasti akan datang
Yang ku tau tanpa gundah yang sengaja tertinggal
Jangan biarkan sedetik waktu terbuang
Kita lewati tanpa ada yang tertinggal
Tapi, itu bila kau yakinkan aku untuk memilihmu
Kulepas semua khawatirku
Dan buang segala cemburumu
Jalinan ini hanya milik kita
Milik perasaan kita yang mencinta
Lalu biarkan mereka memuji atau mencemooh
Terserah mereka menganggap kita seperti orang bodoh
Yang pasti, harapan di hati hanya berjodoh
Kubisikkan harapan lewat alunan sendu
Semoga kau dengar dan tertanam jauh di lubuk kalbu
Hingga tak ada curiga yang tersisa
Semua berganti dengan setia dan percaya
Aku bukan menuntut
Hanya meyakinkanmu agar kau tak selalu kalut
Kini, hanya ada setiaku dan percayamu
Itu janji, bukan sumpah semu
Semua agar kau yakin akan cinta yang bahagia
Cinta yang tak melupakan pasangannya
Yang selalu memandang tanpa syarat dan apa adanya
Sadarlah, bahwa cinta itu memberi dan menerima
By: dadarguling95@yahoo.com. Mansy. siroj Priamitra
Rabu, 20 okt 2010. 08.02pm. kamis, 21 okt 2010. 07.55am, 10.41am
BERSAMA LEBIH BAIK
Mengapa harus ada pertengkaran
Padahal kemesraan itu lebih indah
Andai saja mata itu terbuka lebih lama
Dalam melihat kebenaran
Aku yakin, selisih itu tak aka nada
Apa yang kau pikirkan
Tentang bunga yang merekah, merah
Satu,
Tapi tak berdaun
Meski batangnya belum lagi mengering
Bilakah nanti kan kering
Apalagi!
Indah?
Buatmu mungkin iya,
Tapi tidak untukku
Bunga itu akan lebih indah
Saat ia merekah bersama lebat daunnya
Dan aku lebih yakin kau akan berkata
Benar, ini memang indah
Inilah yang sekarang terjadi,
Saat kau hanya terpaku dalam diam
Atas dasar apa yang kau pikirkan, aku tak tau
Hidupmu hanya untukmu
Ya, tanpa kau sadari itu yang berlaku
Sedangkan banyak hati yang tertekan kaku
Lelah terperangkap dalam kebisuanmu
Untuk apa?
Itu hanya akan sia-sia sampai menunggumu berbicara,
Dan menyapa,
Hai…
Aku lebih suka,
Yakinku kau kan berkata iya,
Saat semua kita seperti dulu
Bersama,
Tertawa,
Bercanda,
Sedih, sementara
Andai saja
Kau biarkan mata lebih lama terbuka
Dan membiarkan ia melihat kebenaran
Berada di pihak yang mana
Yakin, kau takkan malu untuk berteriak
Bersama lebih baik
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj Priamitra
Sabtu, 16 oktober 2010, 10.32am, 12.29pm
Padahal kemesraan itu lebih indah
Andai saja mata itu terbuka lebih lama
Dalam melihat kebenaran
Aku yakin, selisih itu tak aka nada
Apa yang kau pikirkan
Tentang bunga yang merekah, merah
Satu,
Tapi tak berdaun
Meski batangnya belum lagi mengering
Bilakah nanti kan kering
Apalagi!
Indah?
Buatmu mungkin iya,
Tapi tidak untukku
Bunga itu akan lebih indah
Saat ia merekah bersama lebat daunnya
Dan aku lebih yakin kau akan berkata
Benar, ini memang indah
Inilah yang sekarang terjadi,
Saat kau hanya terpaku dalam diam
Atas dasar apa yang kau pikirkan, aku tak tau
Hidupmu hanya untukmu
Ya, tanpa kau sadari itu yang berlaku
Sedangkan banyak hati yang tertekan kaku
Lelah terperangkap dalam kebisuanmu
Untuk apa?
Itu hanya akan sia-sia sampai menunggumu berbicara,
Dan menyapa,
Hai…
Aku lebih suka,
Yakinku kau kan berkata iya,
Saat semua kita seperti dulu
Bersama,
Tertawa,
Bercanda,
Sedih, sementara
Andai saja
Kau biarkan mata lebih lama terbuka
Dan membiarkan ia melihat kebenaran
Berada di pihak yang mana
Yakin, kau takkan malu untuk berteriak
Bersama lebih baik
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj Priamitra
Sabtu, 16 oktober 2010, 10.32am, 12.29pm
BENCI Vs CINTA
Keangkuhanku membuka celah benih itu
Celah yang sengaja kututup rapat sejak dulu
Tapi mengapa perasaan itu dating
Menggoda hasratku ingin berkencan
Entahlah…
Apa mungkin merasukiku lewat jembatan
Yang lelah kubangun dengan dendam dan amarah
Atau mungkin,
Robohnya hati batuku yang lama kubentengi dengan benci
Perasaan ini benar-benar menyiksaku
Menjajah batin dan pikiranku
BY: dadarguling95@yahoo.com. Mansy. Siroj Priamitra
10-10-2009
Celah yang sengaja kututup rapat sejak dulu
Tapi mengapa perasaan itu dating
Menggoda hasratku ingin berkencan
Entahlah…
Apa mungkin merasukiku lewat jembatan
Yang lelah kubangun dengan dendam dan amarah
Atau mungkin,
Robohnya hati batuku yang lama kubentengi dengan benci
Perasaan ini benar-benar menyiksaku
Menjajah batin dan pikiranku
BY: dadarguling95@yahoo.com. Mansy. Siroj Priamitra
10-10-2009
“Ampun Berkedok Serumpun”
Apa yang terjadi di rumah kita
Mungkinkah kita terlalu sopan
Atau memang kita yang tak ada daya lagi,
apa mungkin kita sedang tidur pulas
atau sengaja mematisurikan kekuatan yang ada?
Dengan tetap membelalakkan mata dari apa yang terjadi
Apa arti “ganyang” yang diteriakkan Soekano
Apa guna “perang” yang dijunjung pahlawan lalu,
Kini memang bukan dulu…
Penjajah yang menyiksa fisik
Tapi saat ini,
yang terjadi adalah romusa batin jiwa-jiwa yang runcing
Mengapa hanya bisa mengumpat
Mengapa pula harus berdebat
Hanya karena untuk menentukan sikap
Dunia sekarang sedang tertawa
Kita tak cukup jika hanya menutup mata dan telinga
Dunia ingin kita bangun
Bukan hanya bangun lalu mandi atau gosok gigi
Rumah kita hanya menunggu waktu untuk roboh
Kau tau mengapa….,
Bagaimana tidak…
Semua pilar telah dirongrong oleh lalat dari kandang malay
Dinding-dindingnya sudah sangat tipis diterpa bom hinaan dari semua sudut
Atapnya lapuk lelah dihujani hujatan
Lantai kayunya rapuh diinjak-injak kaki-kaki kasar tak berprikemaluan
Tapi kita hanya bisa menonton kemegahannya yang akan menjadi reruntuhan
Hanya bisa menganga di bawah kolong yang besar membiarkan debu menutupi wajah
Kau tau, Angin sepoi akan menjadi badai dahsyat untuk rumah kita
Ini hanya menunggu waktu, untuk menulis sebuah sejarah memalukan
Untuk apa berunding untuk hal yang tidak perlu
Diplomasi hanya menjadi sebuah akal-akalan
Surat teguran hanya akan menunda ketegasan tumbuh di jiwa kita
Jika seperti ini…, kapan kita bisa melihat anak cucu kita tumbuh dengan hebat
Untuk apa menanam pepohohan, apakah hanya untuk berteduh dikala hujan…
Lalu apa guna kita menggali sumur, jika beralasan sekedar malas untuk ke sungai
Haruskah kita rela melihat generasi kita hilang jiwa beraninya…
Siapkah kita menjadi pemandu jiwa dewasa yang idiot
Maukah seumur hidup kita lalui dibawah tekanan
yang seharusnya kita sendiri bisa kita menekannya
Entahlah…..,
Rumah kita bukan dibangun dengan ribuan senapan dan jutaan tentara
Ia megah karena seratus bambu runcing dan segumpal semangat perjuangan
Mengapa mudah membangun peradaban orang lain di rumah kita
Sedangkan pahatan corak rumah sendiri begitu sulit untuk dipertahankan
Apa semuanya ini…
Jangan membuat penghuni rumah kita semakin gila…
Bangkitlah kawanku…
Untuk anak cucu kita
Demi kelangsungan generasi kita
Bangkitlah…
Bakar lagi semangat yang sempat redam
Bangkitlah…
Demi rumah kita…
By. dadarguling95@yahoo.com
27-28/august/2010- 12.22pm
Mungkinkah kita terlalu sopan
Atau memang kita yang tak ada daya lagi,
apa mungkin kita sedang tidur pulas
atau sengaja mematisurikan kekuatan yang ada?
Dengan tetap membelalakkan mata dari apa yang terjadi
Apa arti “ganyang” yang diteriakkan Soekano
Apa guna “perang” yang dijunjung pahlawan lalu,
Kini memang bukan dulu…
Penjajah yang menyiksa fisik
Tapi saat ini,
yang terjadi adalah romusa batin jiwa-jiwa yang runcing
Mengapa hanya bisa mengumpat
Mengapa pula harus berdebat
Hanya karena untuk menentukan sikap
Dunia sekarang sedang tertawa
Kita tak cukup jika hanya menutup mata dan telinga
Dunia ingin kita bangun
Bukan hanya bangun lalu mandi atau gosok gigi
Rumah kita hanya menunggu waktu untuk roboh
Kau tau mengapa….,
Bagaimana tidak…
Semua pilar telah dirongrong oleh lalat dari kandang malay
Dinding-dindingnya sudah sangat tipis diterpa bom hinaan dari semua sudut
Atapnya lapuk lelah dihujani hujatan
Lantai kayunya rapuh diinjak-injak kaki-kaki kasar tak berprikemaluan
Tapi kita hanya bisa menonton kemegahannya yang akan menjadi reruntuhan
Hanya bisa menganga di bawah kolong yang besar membiarkan debu menutupi wajah
Kau tau, Angin sepoi akan menjadi badai dahsyat untuk rumah kita
Ini hanya menunggu waktu, untuk menulis sebuah sejarah memalukan
Untuk apa berunding untuk hal yang tidak perlu
Diplomasi hanya menjadi sebuah akal-akalan
Surat teguran hanya akan menunda ketegasan tumbuh di jiwa kita
Jika seperti ini…, kapan kita bisa melihat anak cucu kita tumbuh dengan hebat
Untuk apa menanam pepohohan, apakah hanya untuk berteduh dikala hujan…
Lalu apa guna kita menggali sumur, jika beralasan sekedar malas untuk ke sungai
Haruskah kita rela melihat generasi kita hilang jiwa beraninya…
Siapkah kita menjadi pemandu jiwa dewasa yang idiot
Maukah seumur hidup kita lalui dibawah tekanan
yang seharusnya kita sendiri bisa kita menekannya
Entahlah…..,
Rumah kita bukan dibangun dengan ribuan senapan dan jutaan tentara
Ia megah karena seratus bambu runcing dan segumpal semangat perjuangan
Mengapa mudah membangun peradaban orang lain di rumah kita
Sedangkan pahatan corak rumah sendiri begitu sulit untuk dipertahankan
Apa semuanya ini…
Jangan membuat penghuni rumah kita semakin gila…
Bangkitlah kawanku…
Untuk anak cucu kita
Demi kelangsungan generasi kita
Bangkitlah…
Bakar lagi semangat yang sempat redam
Bangkitlah…
Demi rumah kita…
By. dadarguling95@yahoo.com
27-28/august/2010- 12.22pm
FROM SEPHIA TO CAMELIA
Sephia…
Mereka menyebutmu
Kekasih gelapku
Tak mengapa
Camelia…
Mereka tau
Kau pernah menjadi simpananku
Tak apa
From Sephia to Camelia
Mereka inginkanmu cepat lupakan aku
Camellia…
Maafkan aku
Tak bisa temani tidurmu
Sephia…
Selamat tidur
Kekasih gelapku
From sephia to Camelia…
Berbeda tapi sama…
From sephia to Camelia…
Keduanya tah beda jauh
Sama-sama judul sebuah lagu
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj priamitra
Mereka menyebutmu
Kekasih gelapku
Tak mengapa
Camelia…
Mereka tau
Kau pernah menjadi simpananku
Tak apa
From Sephia to Camelia
Mereka inginkanmu cepat lupakan aku
Camellia…
Maafkan aku
Tak bisa temani tidurmu
Sephia…
Selamat tidur
Kekasih gelapku
From sephia to Camelia…
Berbeda tapi sama…
From sephia to Camelia…
Keduanya tah beda jauh
Sama-sama judul sebuah lagu
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj priamitra
SANG PENAKLUK
Aku mahasiswa yang biasa berkutat dengan rumus mata kuliahku
Tapi, ketika berhadapan dengan wanita
Aku tak tau pasti jumlah jemariku
Aku adalah orang yang suka berdiskusi
Tak bisa hanya diiam dan harus berbicara
Tapi, jika di dekat perempuan
Aku sering tak bisa berkata-kata
Aku aktif dan berani untuk unjuk gigi
Tapi, jika dengan makhluk yang satu ini
Aku selalu berdian diri
Orang bilang pikiranku bermutu
Tapi, jika disamping jenis yang satu ini
Aku selalu mati kutu
Aku selalu berdecak kagum ketika melihat bunga yang mekar
Merasa kurang jika tak memuji indah rekahannya
Tapi entahlah,
Jika bertemu dengan bunga yang sebenarnya
Aku selalu mati gaya…
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj Priamitra
23 september 2008, 01.32am
Tapi, ketika berhadapan dengan wanita
Aku tak tau pasti jumlah jemariku
Aku adalah orang yang suka berdiskusi
Tak bisa hanya diiam dan harus berbicara
Tapi, jika di dekat perempuan
Aku sering tak bisa berkata-kata
Aku aktif dan berani untuk unjuk gigi
Tapi, jika dengan makhluk yang satu ini
Aku selalu berdian diri
Orang bilang pikiranku bermutu
Tapi, jika disamping jenis yang satu ini
Aku selalu mati kutu
Aku selalu berdecak kagum ketika melihat bunga yang mekar
Merasa kurang jika tak memuji indah rekahannya
Tapi entahlah,
Jika bertemu dengan bunga yang sebenarnya
Aku selalu mati gaya…
By: dadarguling95@yahoo.com . Mansy. Siroj Priamitra
23 september 2008, 01.32am
Langganan:
Postingan (Atom)